Hengkang dari Liverpool, Sadio Mane Bisa Bernasib Sama seperti Coutinho dan Wijnaldum | OneFootball

Hengkang dari Liverpool, Sadio Mane Bisa Bernasib Sama seperti Coutinho dan Wijnaldum | OneFootball

In partnership with

Yahoo sports
Icon: Bolasport.com

Bolasport.com

·22 Juni 2022

Hengkang dari Liverpool, Sadio Mane Bisa Bernasib Sama seperti Coutinho dan Wijnaldum

Gambar artikel:Hengkang dari Liverpool, Sadio Mane Bisa Bernasib Sama seperti Coutinho dan Wijnaldum

BOLASPORT.COM - Nasib Sadio Mane bisa sama seperti para pemain yang hengkang dari Liverpool, lantaran tak tampil bagus dan tidak menjadi andalan.

Kepindahan Sadio Mane dari Liverpool ke raksasa Bundesliga, Bayern Muenchen, sudah pasti terjadi di bursa transfer musim panas 2022.


Video OneFootball


Namun, banyak yang beranggapan keinginan Sadio Mane untuk mencari tantangan baru di luar Inggris seperti paradoks.

Pasalnya, Bayern Muenchen telah mendominasi Bundesliga dengan mampu digdaya sebagai kampiun selama 10 musim beruntun.

Hal ini tentu membuat publik bertanya-tanya dari segi apa tantangan yang diinginkan oleh Sadio Mane untuk pindah ke Die Roten.

Jika dibandingkan dengan Liverpool, sejak diarsiteki oleh Juergen Klopp, The Reds mampu bertransformasi jadi tim yang kembali disegani di Inggris maupun di Eropa.

Kedatangannya pada 2016 saat Livepool sedang membangun di musim penuh pertama Juergen Klopp bisa disebut sebagai salah satu pembelian terpenting.

Selama enam musim di Anfield, Mane juga tak jarang memainkan berbagai posisi di lini serang Liverpool.

Musim pertamanya pada 2016-2017, Mane datang dari Southampton dan diplot sebagai penyerang sayap kanan.

Ketika Liverpool mendatangkan Mohamed Salah dari AS Roma pada 2017, dirinya berpindah ke penyerang sayap kiri.

Posisi ini adalah yang paling lama dihuni oleh Mane selama empat musim, yakni dari tahun 2017 hingga 2021.

Transformasi tersebut membentuk trisula mematikan The Reds yang mengantarkan berbagai gelar bersama Mohamed Salah dan Roberto Firmino.

Bahkan di musim terakhirnya, yakni musim 2021-2022, Mane sering dipasang sebagai striker yang berperan false nine.

Dari ketajamannya di depan gawang tersebut Mane berhasil mengemas 120 gol di berbagai ajang bersama Liverpool.

Namun, hengkangnya Mane dari Liverpool ini seperti sebuah perjudian dengan dua kemungkinan bakal terjadi.

Pertama, Mane akan tetap tajam dan tampil lebih garang di Bayern atau flop seperti halnya para rekannya terdahulu yang memilih meninggalkan Liverpool.

Contoh kegagalan nyata adalah Philippe Coutinho, Emre Can, dan Georginio Wijnaldum yang dikutip BolaSport.com dari Daily Mail.

Ketiganya hengkang dari Liverpool dan mengalami kejatuhan serta tak bisa menemukan performa terbaiknya kembali.

Philippe Coutinho hengkang dari Liverpool ke raksasa Liga Spanyol, Barcelona, di jendela bursa transfer musim dingin 2018 lalu.

Barcelona menggelontorkan biaya yang mahal untuk datangkan bintang Brasil ini dengan nilai mencapai 120 juta euro atau sekitar Rp1,8 triliun.

Satu setengah musim pertama Coutinho bisa disebut sebagai pembelian mahal yang gagal bagi Barcelona.

Meskipun mampu mengantarkan El Barca meraih trofi Liga Spanyol di musim 2017-2018 dan 2018-2019, performanya dinilai tidak seperti saat dengan Liverpool.

Bahkan hal ini membuat Coutinho dipinjamkan selama semusim pada 2019-2020 ke Bayern Muenchen.

Kendati mampu tampil apik dan mengantarkan Bayern juara Liga Champions pada musim tersebut, cedera yang dialaminya pada akhir musim membuat gagal terwujudnya transfer permanen.

Kembali ke Barcelona musim 2021-2022, Coutinho hanya bertahan selama setengah musim.

Januari 2022 dirinya dipinjamkan ke Aston Villa bereuni dengan mantan rekannya di Liverpool yang kini menjabat sebagai pelatih The Villans, yakni Steven Gerrard.

Performanya di Liga Inggris dinilai membaik dan Aston Villa memutuskan untuk mempermanenkannya dengan kontrak empat tahun.

Sementara Emre Can, dirinya pindah dari Liverpool setelah kontraknya habis pada 2018 lalu.

Emre Can tak memperpanjang kontraknya di Anfield, padahal dirinya merupakan salah satu gelandang favorit Klopp dan salah satu pemain vital di lini tengah.

Pemain internasional Jerman ini lebih memilih hengkang ke raksasa Liga Italia, Juventus, dengan kontrak berdurasi lima tahun.

Sayangnya, performa Can justru gagal total dan tak bisa tampil reguler di musim perdananya saat Juventus masih ditangami Maurizio Sarri.

Can hanya bertahan selama semusim sebelum dipinjamkan ke Borussia Dortmund pada 2019-2020.

Kariernya diselamatkan oleh penampilan apiknya bersama Die Borussen sehingga dipermanenkan pada 2020 lalu.

Nama yang gagal usai hengkang dari Liverpool paling baru adalah Georginio Wijnaldum yang hengkang dan bergabung dengan Paris Saint-Germain secara gratis.

Namun, Georginio Wijnaldum tak bisa menunjukkan kualitasnya di bawah arahan Mauricio Pochettino.

Dirinya lebih sering menghuni bangku cadangan dan kalah bersaing dengan gelandang PSG lainnya seperti Marco Verratti, Idrissa Gueye, Leandro Paredes, hingga Danilo Pereira.

Wijnaldum bahkan terpilih sebagai Ligue 1 Flop Signing of the Year dari pemilihan yang dilakukan oleh majalah Get French Football News yang melibatkan 100 ribu suara.

Performa jeblok Wijnaldum ini membuatnya tersingkir dari langganan timnas Belanda asuhan Louis van Gaal dan terancam tak akan mentas di Piala Dunia 2022 Qatar bersama De Oranje.

Ketiga nama di atas adalah bukti kegagalan setelah meninggalkan Liverpool ketika sedang dalam masa keemasan.

Akan tetapi, Mane bisa saja mematahkan penilaian tersebut dan tetap bersinar di Jerman bersama Bayern.

Bagaimanapun juga Mane akan tetap menjadi salah satu pemain yang tetap dicintai oleh para pendukung Liverpool.

Kontribusinya dalam ikut membangun kembali Liverpool ke masa kejayaan bersama Juergen Klopp telah dibuktikan dengan raihan berbagai trofi bergengsi.

Lihat jejak penerbit